Syarah Shalawat Nariyah (Bag. 6)

SYARAH SHALAWAT NARIYAH BERDASARKAN HADITS-HADITS NABI shallallahu ‘alaihi wa sallam
Bagian 6

وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ

“Dan hujan diturunkan [oleh Allah] sebab [berkah] wajahnya yang mulia [shallallahu ‘alaihi wa sallam].”

Maksud redaksi di atas, Allah menurunkan hujan ke bumi ketika orang-orang memang memerlukan hujan pada saat terjadi kekeringan, sebab berkah wajah baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Dalam bahasa yang lebih mudah dimengerti, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi sebab diturunkannya hujan. Terdapat beberapa dalil yang berkaitan hal tersebut.

Dalil Pertama
Permohonan turunnya hujan pada masa Jahiliyah yang dilakukan oleh Abdul Muththalib, kakek Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah menurunkan hujan sebab baginda.

عَنْ رُقَيْقَةَ بِنْتِ أَبِي صَيْفِيِّ بْنِ هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ، وَكَانَتْ لُدَّةَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ قَالَتْ: تَتَابَعَتْ عَلَى قُرَيْشٍ سِنُونَ أَقْحَلَتِ الضَّرْعَ وَأَرَقَّتِ الْعَظْمَ فَبَيْنَا أَنَا رَاقِدَةٌ اللّهُمَّ أَوْ مَهْمُومَةٌ فَإِذًَا هَاتِفٌ يَصْرُخُ بِصَوْتٍ صَحِلٍ يَقُولُ: مَعْشَرَ قُرَيْشٍ إِنَّ  هَذَا النَّبِيَّ الْمَبْعُوثَ قَدْ أَظَلَّتْكُمْ أَيَّامُهُ، وَهَذَا إِبَّانُ نُجُومِهِ فَحَيَّ هَلاّ بِالْحَيَا وَالْخِصْبِ، أَلاَ فَانْظُرُوا رَجُلاً مِنْكُمْ وَسِيطًا عِظَامًا جِسَامًا أَبْيَضَ بَضًّا أَوْطَفَ اْلأَهْدَابِ، سَهْلَ الْخَدَّيْنِ، أَشَمَّ الْعِرْنِينِ، لَهُ فَخْرٌ يَكْظِمُ عَلَيْهِ وَسُنَّةٌ تَهْدِي إِلَيْهِ، فَلْيَخْلُصْ هُوَ وَوَلَدُهُ وَلْيَهْبِطْ إِلَيْهِ مِنْ كُلِّ بَطْنٍ رَجُلٌ فَلْيَشُنُّوا مِنَ الْمَاءِ، وَلْيَمَسُّوا مِنَ الطِّيبِ وَيَسْتَلِمُوا الرُّكْنَ، ثُمَّ لِيَرْقَوْا أَبَا قُبَيْسٍ ثُمَّ لِيَدْعُ الرَّجُلُ وَلْيُؤَمِّنِ الْقَوْمُ فَغِثْتُمْ مَا شِئْتُمْ، فَأَصْبَحْتُ عَلِمَ اللهُ مَذْعُورَةً اقْشَعَرَّ جِلْدِي وَوَلِهَ عَقْلِي وَاقْتَصَصْتُ رُؤْيَايَ وَنِمْتُ فِي شِعَابِ مَكَّةَ فَوَالَحُرْمَةِ وَالْحَرَمِ مَا بَقِيَ بِهَا أَبْطَحِيٌّ إِلاَّ قَالَ: هَذَا شَيْبَةُ الْحَمْدِ وَتَنَاهَتْ إِلَيْهِ رِجَالاَتُ قُرَيْشٍ وَهَبَطَتْ إِلَيْهِ مِنْ كُلِّ بَطْنٍ رَجُلٌ فَشَنُّوا الْمَاءَ وَمَسُّوا وَاسْتَلَمُوا ثُمَّ ارْتَقَوْا أَبَا قُبَيْسٍ وَاصْطَفُّوا حَوْلَهُ مَا يَبْلُغُ سَعْيُهُمْ مُهِلَّهُ حَتَّى إِذَا اسْتَوَوْا بِذِرْوَةِ الْجَبَلِ قَامَ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ وَمَعَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غُلاَمٌ قَدْ أَيْفَعَ أَوْ كَرَبَ فَرَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ: «اللَّهُمَّ سَادَّ الْخَلَّةِ وَكَاشِفَ الْكُرْبَةِ أَنْتَ مُعَلَّمٌ غَيْرُ مُعَلَّمٍ مَسْؤولٌ غَيْرُ مُبَخَّلٍ وَهَذِهِ عُبَدَاؤُكَ وَإِمَاؤُكَ بِعَذَرَاتِ حَرَمِكَ يَشْكُونَ إِلَيْكَ سَنَتَهُمْ أَذْهَبَتِ الْخُفَّ وَالظِّلْفَ، اللَّهُمَّ فَأَمْطِرَنْ عَلَيْنَا مُغْدِقًا مَرْتَعًا». فَوَرَبِّ الْكَعْبَةِ مَا رَامُوا حَتَّى تَفَجَّرَتِ السَّمَاءُ بِمَا فِيهَا وَاكْتَظَّ الْوَادِي بِثَجِيجِهِ فَسَمِعْتُ شِيخَانَ قُرَيْشٍ وَجِلَّتَهَا عَبْدَ اللهِ بْنَ جُدْعَانَ وَحَرْبَ بْنَ أُمَيَّةَ وَهِشَامَ بْنَ الْمُغِيرَةِ يَقُولُونَ لِعَبْدِ الْمُطَّلِبِ: هَنِيئًا لَكَ أَبَا الْبَطْحَاءِ أَيْ عَاشَ بِكَ أَهْلُ الْبَطْحَاءِ وَفِي ذَلِكَ مَا تَقُولُ رُقَيْقَةُ بِنْتُ أَبِي صَيْفِيٍّ:
بِشَيْبَةَ الْحَمْدِ أَسْقَى اللهُ بَلْدَتَنَا … وَقَدْ فَقَدْنَا الْحَيَا وَاجْلَوَّذَ الْمَطَرُ
فَجَادَ بِالْمَاءِ جُونِيُّ لَهُ سَبَلٌ … سَحًّا فَعَاشَتْ بِهِ اْلأَنْعَامُ وَالشَّجَرُ
مَنًّا مِنَ اللهِ بِالْمَيْمُونِ طَائِرُهُ … وَخَيْرِ مَنْ بُشِّرَتْ يَوْمًا بِهِ مُضَرُ
مُبَارَكُ اْلأَمْرِ يُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِهِ … مَا فِي اْلأَنَامِ لَهُ عِدْلٌ وَلاَ خَطَرُ

Ruqaiqah binti Abi Shaifi bin Hasyim bin Abdi Manaf – wanita yang seusia dengan Abdul Muththalib – berkata: “Kekeringan terus menerus melanda orang-orang Quraisy yang mengakibatkan keringnya tetek hewan dan lemahnya tulang. Ketika aku tidur atau bersedih, tiba-tiba aku bermimpi ada hatif (suara tanpa kelihatan orangnya) yang berseru dengan suara yang tidak tajam. Suara itu berkata:

“Hai golongan Quraisy, sesungguhnya hari-hari Nabi yang diutus ini telah menaungi kalian. Ini adalah waktu kemunculannya. Marilah menuju turunnya hujan dan kesuburan. Ingatlah kalian! Lihatlah seseorang yang nasabnya bagus, orangnya agung, besar, kulitnya putih dengan warna lembut dan bersih, bermata lebar dan lentik, kedua pipinya datar, pribadinya luhur, ia memiliki kebanggaan yang disembunyikannya dan jalan hidup yang dapat menunjukkan manusia. Maka hendaknya orang ini keluar bersama anaknya. Dari setiap marga hendaknya turun satu orang laki-laki. Hendaknya mereka mandi dengan air, memakai minyak wangi, menyentuh Rukun Yamani [Ka’bah], kemudian menaiki gunung Aba Qubais, kemudian laki-laki itu hendaklah berdoa, sementara orang-orang membaca amin, maka hujan dan pertolongan akan datang kepada kalian sesuai keinginan kalian.”

Pagi harinya –Allah mengetahui- aku menjadi ketakutan, bulu kulitku merinding dan kesadaran akalku hilang. Aku menceritakan mimpiku, dan mimpi itu menyebar ke lorong-lorong bukit Makkah. Demi kemuliaan dan tanah suci, semua penduduk Makkah berkata: “[Laki-laki yang dimaksud dalam mimpi] ini adalah Syaibah al-Hamdi [julukan Abdul Muththalib]”.

Lalu semua tokoh-tokoh Quraisy mendatanginya. Lalu dari setiap marga turun kepadanya seorang laki-laki. Mereka mandi, memakai minyak wangi, menyentuh Rukun Yamani (Ka’bah), kemudian menaiki gunung Aba Qubais, berbaris di sekitarnya (Abdul Muththalib), dimana kecepatan mereka tidak sampai pada kepelanannya. Sehingga manakala mereka sampai ke puncak gunung, Abdul Muththalib berdiri bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam –seorang anak laki-laki yang menjelang masa dewasa. Lalu ia mengangkat kedua tangannya, dan berdoa:

“Ya Allah Yang Maha Menutupi Keperluan dan Pembuka Kesusahan, Engkau yang memberikan ilmu dan tidak perlu diberitahu, Engkau yang diminta dan tidak pelit. Ini hamba-hamba-Mu, laki-laki dan perempuan di halaman Tanah Suci-Mu, mereka mengadukan kepada-Mu kekeringan yang telah menghabiskan kambing dan unta. Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang besar, lebat dan menyuburkan.”

Demi Tuhan Yang Menguasai Ka’bah. Mereka terus menerus berdoa, hingga akhirnya langit menyemburkan airnya, dan lembah dipenuhi dengan aliran air yang banyak. Lalu aku mendengar para tokoh dan pembesar Quraisy, yaitu Abdullah bin Jud’an, Harb bin Umayyah dan Hisyam bin al-Mughirah berkata kepada Abdul Muththalib: “Selamat buat Anda wahai pemimpin Makkah, sebab engkau penduduk Makkah dapat hidup.”

Mengenai kejadian itu, Ruqaiqah binti Abi Shaifi berkata [dalam sebuah syair]:

Sebab Syaibah al-Hamdi Allah menyiram negeri kami, padahal kami telah kehilangan kehidupan dan hujan telah lama tertahan

Awan hitam dermawan dengan air yang memiliki rintik-rintik, dengan hujan lebat yang sebabnya hewan-hewan dan pepohonan hidup

Karena anugerah dari Allah sebab seseorang yang diberkati, dan sebaik-baik orang yang telah dikabarkan oleh Mudhar pada suatu hari

Dia orang yang diberkahi urusannya, hujan diturunkan dengan keberkatannya, di antara manusia tidak ada yang menyamai dan yang menyerupai.

Hadits hasan riwayat Ibnu Sa’ad dalam al-Thabaqat juz 1 hlm 89, al-Baladzuri dalam Ansab al-Asyraf [146], Ibnu Abi al-Dunya dalam al-Mathar wa al-Ra’du wa al-Barqu [29], al-Thabarani dalam al-Du’a’ [2210], al-Mu’jam al-Kabir [661] dan al-Ahadits al-Thiwal [26], Ibnu al-A’rabi dalam al-Mu’jam [1527], Abu Nu’aim dalam Ma’rifah al-Shahabah juz 6 hlm 3328, al-Khaththabi dalam Gharib al-Hadits juz 1 hlm 435, al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwwah juz 2 hlm 15 dan Ibnu al-Atsir dalam Usud al-Ghabah juz 6 hlm 112. Al-Hafizh Abu Musa al-Madini berkata, hadits tersebut bernilai hasan dan sanadnya tinggi, sebagaimana dikutip oleh Ibnu al-Atsir.

Dalam hadits hasan di atas, dijelaskan bahwa turunnya hujan ketika Abdul Muththalib bersama orang-orang Quraisy melakukan doa istisqa’ (doa agar turun hujan) di gunung Aba Qubais, sebab berkah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebaik-baik manusia yang telah dikabarkan oleh Mudhar, leluhur kaum Quraisy. Dengan demikian, berarti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadi sebab turunnya hujan ketika masih kecil menjelang dewasa.

Dalil Kedua
Setelah Abdul Muththalib wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Pada masa itu, pernah terjadi kekeringan. Lalu Abu Thalib bersama penduduk Makkah melakukan doa istisqa’ dengan membawa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai wasilah atau penyebab diturunkannya hujan.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: رُبَّمَا ذَكَرْتُ قَوْلَ الشَّاعِرِ وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَى وَجْهِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَسْقِي فَمَا يَنْزِلُ حَتَّى يَجِيشَ كُلُّ مِيزَابٍ
وَأَبْيَضَ يُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ * ثِمَالُ الْيَتَامَى عِصْمَةٌ لِلأَرَامِلِ
وَهُوَ قَوْلُ أَبِي طَالِبٍ

“Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata: “Terkadang aku teringat perkataan seorang penyair, ketika melihat wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon turunnya hujan, lalu ia tidak turun dari mimbar sehingga air hujan bercucuran dari semua talang.

Seseorang yang putih, wajahnya menjadi sebab turunnya air hujan
Ia penolong anak-anak yatim dan pelindung para janda

Syair ini perkataan Abu Thalib.” (Hadits shahih riwayat al-Bukhari [1009]).

Dalam hadits shahih di atas, Abu Thalib, paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan syair, dengan kalimat, wayustasqa al-ghamaamu biwajhihi, yang persis dengan redaksi dalam shalawat Nariyah. Maksud dari kalimat tersebut adalah,  “berkah wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam air hujan dapat diturunkan oleh Allah”. Syair tersebut diucapkan di hadapan baginda, diriwayatkan oleh para sahabat di hadapan baginda, dan disebutkan dalam kitab hadits yang paling shahih, yaitu Shahih al-Bukhari. Karena itu sangat aneh, ketika ada orang Wahabi mensyirikkan shalawat Nariyah karena redaksi tersebut.

Di sini ada pertanyaan, kapan doa istisqa’ tersebut dilakukan oleh Abu Thalib? Al-Imam al-Qasthalani menjelaskan dalam kitabnya Irsyad al-Sari Syarh Shahih al-Bukhari bahwa doa istisqa’ tersebut dilakukan oleh Abu Thalib dan orang-orang Quraisy bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masih remaja dan diasuh oleh Abu Thalib sebagaimana dalam riwayat berikut ini:

عَنْ جُلْهُمَةَ بْنِ عُرْفُطَةَ قَالَ: قَدِمْتُ مَكَّةَ وَقُرَيْشٌ فِيْ قَحْطٍ، فَقَائِلٌ مِنْهُمْ يَقُوْلُ: اِعْتَمِدُوا اللاَّتَ وَالْعُزَّى. وَقَائِلٌ مِنْهُمْ يَقُوْلُ: اِعْتَمِدُوا مَنَاةَ الثالثةَ الأُخْرَى فَقَالَ شَيْخٌ وَسِيْمٌ حَسَنُ الْوَجْهِ جَيِّدُ الرَّأْيِ: أَنَّى تُؤْفَكُوْنَ وَفِيْكُمْ بَقِيَّةُ إِبْرَاهِيْمَ وَسُلاَلَةُ إِسْمَاعِيْلَ. قَالُوْا: كَأَنَّكَ عَنَيْتَ أَبَا طَالِبٍ؟ قَالَ: إِيْهًا. فَقَامُوْا بِأَجْمَعِهِمْ وَقُمْتُ مَعَهُمْ فَدَقَقْنَا عَلَيْهِ بَابَهُ فَخَرَجَ إِلَيْنَا رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ عَلَيْهِ إِزَارٌ قَدِ اتَّشَحَ بِهِ فَثَارُوْا إِلَيْهِ فَقَالُوْا: يَا أَبَا طَالِبٍ أَقْحَطَ الْوَادِيْ وَأَجْدَبَ الْعِيَالُ فَهَلُمَّ فَاسْتَسْقِ لَنَا فَخَرَجَ أَبُوْ طَالِبٍ وَمَعَهُ غُلاَمٌ كَأَنَّهُ شَمْسُ دُجُنَّةٍ تَجَلَّتْ عَلَيْهِ سَحَابَةٌ قَتْمَاءُ وَحَوْلَهُ أُغَيْلِمَةٌ فَأَخَذَهُ أَبُوْ طَالِبٍ فَأَلْصَقَ ظَهْرَهُ بِالْكَعْبَةِ وَلاَذَ بِإِصْبِعِهِ الْغُلاَمُ وَمَا فِيْ السَّمَاءِ قَزْعَةٌ فَأَقْبَلَ السَّحَابُ مِنْ هَاهُنَا وَهَا هُنَا وَأَغْدَقَ وَاغْدَوْدَقَ وَانْفَجَرَ لَهُ الْوَادِيْ وَأَخْصَبَ النَّادِي وَالْبَادي. وَفِيْ ذَلِكَ يَقُوْلُ أَبُوْ طَالِبٍ:
وَأَبْيَضُ يُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ … ثِمَالُ الْيَتَامَى عِصْمَةٌ لِلأَرَامِلِ
يَلُوْذُ بِهِ الْهُلاَّكُ مِنْ آَلِ هَاشِمٍ … فَهُمْ عِنْدَهُ فِيْ نِعْمَةٍ وَفَوَاضِلِ

“Julhumah bin Urfuthah berkata: “Aku datang ke Makkah ketika orang-orang Quraisy dilanda musim kering. Lalu seseorang di antara mereka berkata: “Bergantunglah kalian kepada Lata dan Uza!” Seseorang ada yang berkata: “Bergantunglah kalian kepada Manat yang ketiga yang paling terkemudian!” Lalu seorang tua yang bagus, wajahnya tampan dan pendapatnya jitu berkata: “Kalian mau ke mana? Sementara pada kalian masih ada seseorang peninggalan Ibrahim dan keturunan Ismail?” Mereka berkata: “Sepertinya maksud Anda Abu Thalib?” Ia menjawab: “Iya.”

Akhirnya semuanya berdiri, dan aku berdiri mengikuti mereka. Kami mengetuk pintu Abu Thalib. Lalu seorang laki-laki yang wajahnya tampan keluar menemui kami. Ia hanya mengenakan sarung. Lalu mereka berdiri kepadanya. Mereka berkata: “Hai Abu Thalib! Di lembah ini telah lama tidak turun hujan. Keluarga telah mengalami kemiskinan. Marilah kamu memohon turunnya hujan untuk kami.”

Lalu Abu Thalib keluar. Ia bersama seorang pemuda. Ia seolah-olah Matahari yang mengalami kegelapan, yang padanya tampak mendung yang berdebu. Ia dikelilingi anak-anak kecil. Lalu Abu Thalib mengambil laki-laki itu, menempelkan punggungnya ke Ka’bah. Pemuda itu memutar jari-jarinya. Di langit tidak ada mendung. Lalu mendung dari sana sini berdatangan. Mendung itu menjadi banyak dan tebal. Dan air hujan pun menyembur ke lembah. Kota dan padang pasir menjadi subur. Mengenai hal itu, Abu Thalib berkata [dalam bait syair]:

Seseorang yang putih, wajahnya menjadi sebab turunnya air hujan
Ia penolong anak-anak yatim dan pelindung para janda

Orang-orang yang kelaparan dari keluarga Hasyim berlindung kepadanya
Mereka di sisinya dalam kenikmatan dan keutamaan

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Dinawari dalam al-Mujalasah wa Jawahir al-‘Ilm [2534], dan Ibnu Asakir. (Lihat al-Hafizh al-Suyuthi dalam al-Khashaihs al-Kubra juz 1 hlm 208 dan al-Shalihi dalam Subul al-Huda wa al-Rasyad juz 2 hlm 137).

Hadits tersebut dan hadits sebelumnya menjelaskan tentang peran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi sebab diturunkannya hujan oleh Allah ketika orang-orang Makkah memerlukannya karena lama terjadi kekeringan.

Dalil Ketiga
Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus menjadi nabi, doa istisqa’ beberapa kali dilakukan. Antara lain sebagaimana diterangkan dalam riwayat berikut ini:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه أَنَّ رَجُلاً دَخَلَ الْمَسْجِدَ يَوْمَ جُمُعَةٍ مِنْ بَابٍ كَانَ نَحْوَ دَارِ الْقَضَاءِ، وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمٌ يَخْطُبُ، فَاسْتَقْبَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا، ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللهِ هَلَكَتْ اْلأَمْوَالُ وَانْقَطَعْتِ السُّبُلُ فَادْعُ اللهَ يُغِيثُنَا. فَرَفَعَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ أَغِثْنَا اللَّهُمَّ أَغِثْنَا اللَّهُمَّ أَغِثْنَا. قَالَ أَنَسٌ وَلاَ وَاللهِ مَا نَرَى فِي السَّمَاءِ مِنْ سَحَابٍ وَلاَ قَزَعَةً وَمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ سَلْعٍ مِنْ بَيْتٍ وَلاَ دَارٍ قَالَ فَطَلَعَتْ مِنْ وَرَائِهِ سَحَابَةٌ مِثْلُ التُّرْسِ فَلَمَّا تَوَسَّطَتْ السَّمَاءَ انْتَشَرَتْ ثُمَّ أَمْطَرَتْ فَلاَ وَاللهِ مَا رَأَيْنَا الشَّمْسَ سِتًّا ثُمَّ دَخَلَ رَجُلٌ مِنْ ذَلِكَ الْبَابِ فِي الْجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمٌ يَخْطُبُ فَاسْتَقْبَلَهُ قَائِمًا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ هَلَكَتْ اْلأَمْوَالُ وَانْقَطَعَتْ السُّبُلُ فَادْعُ اللهَ يُمْسِكْهَا عَنَّا قَالَ فَرَفَعَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى اْلآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ اْلأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ قَالَ فَأَقْلَعَتْ وَخَرَجْنَا نَمْشِي فِي الشَّمْسِ قَالَ شَرِيكٌ سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ أَهُوَ الرَّجُلُ اْلأَوَّلُ فَقَالَ مَا أَدْرِي.

“Dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu, “Pada hari Jumat seorang lelaki masuk ke masjid dari pintu yang ada di sekitar tempat memutuskan, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tengah berdiri menyampaikan khutbah. Lalu lelaki itu menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berdiri. Kemudian berkata: “Hai Rasulullah, binatang-binatang ternak mati dan jalan-jalan putus. Berdoalah kepada Allah untuk menurunkan hujan.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya. Kemudian berkata: “Ya Allah, limpahkanlah kepada kami hujan. Ya Allah, limpahkanlah kepada kami hujan. Ya Allah, limpahkanlah kepada kami hujan.”

Anas berkata: “Demi Allah [pada saat itu] kami tidak melihat arak-arakan awan di langit dan di sana tidak terdapat bangunan atau rumah apa pun yang menghalangi kami dengan [gunung] Sila’.” Anas berkata: “Arakan awal tebal mirip perisai raksasa muncul dari balik gunung itu, ketika sampai di tengah angkasa, awan itu menyebar dan hujan pun turun. Demi Allah, kami tidak melihat Matahari selama seminggu.”

Anas berkata: “[Pada hari Jumat berikutnya] seorang lelaki datang lewat pintu yang sama dan pada waktu itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tengah berdiri menyampaikan khutbah Jumat. Orang itu berdiri di hadapan Nabi dan berkata: “Hai Rasulullah, binatang-binatang ternak mati dan jalan-jalan putus. Berdoalah kepada Allah untuk menghentikan hujan.” Anas berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya dan berkata: “Ya Allah, ke sekeliling kami, namun jangan di atas kami. Ya Allah, di atas dataran tinggi, di atas gunung-gunung, di atas bukit-bukit, ke dalam lembah-lembah dan di atas pepohonan tumbuh.” Ana berkata: “Dan hujan pun berhenti. Kami berjalan di bawah cahaya Matahari.”

Syarik berkata: “Aku bertanya kepada Anas bin Malik, apakah lelaki itu lelaki yang pertama?” Anas berkata: “Aku tidak tahu.” (Hadits shahih riwayat al-Bukhari [1013] dan Muslim [897]).

Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa ketika tengah menyampaikan khutbah Jumat, lalu hujan turun selama satu minggu. Sehingga pada Jumat berikutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa agar hujan itu berhenti.

Dalil Keempat
Setelah wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadi sebab turunnya hujan ketika penduduk Madinah dilanda kekeringan pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu.

عَنْ مَالِكٍ الدَّارِ، قَالَ : وَكَانَ خَازِنَ عُمَرَ عَلَى الطَّعَامِ، قَالَ : أَصَابَ النَّاسَ قَحْطٌ فِيْ زَمَنِ عُمَرَ، فَجَاءَ رَجُلٌ إِلَى قَبْرِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اِسْتَسْقِ ِلأُمَّتِكَ فَإِنَّهُمْ قَدْ هَلَكُوْا، فَأَتَى الرَّجُلَ فِي الْمَنَامِ فَقِيْلَ لَهُ : ائْتِ عُمَرَ فَأَقْرِئْهُ السَّلاَمَ وَأَخْبِرْهُ أَنَّكُمْ مَسْقِيُّوْنَ، وَقُلْ لَهُ : عَلَيْكَ الْكَيْسَ، عَلَيْكَ الْكَيْسَ، فَأَتَى عُمَرَ فَأَخْبَرَهُ فَبَكَى عُمَرُ ثُمَّ قَالَ: يَا رَبِّ لاَ آلُوْ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ عَنْهُ.

“Diriwayatkan dari Malik al-Dar, bendahara pangan Khalifah Umar bin al-Khaththab, bahwa musim paceklik melanda kaum Muslimin pada masa Khalifah Umar. Maka seorang sahabat (yaitu Bilal bin al-Harits al-Muzani) mendatangi makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan: “Hai Rasulullah, mohonkanlah hujan kepada Allah untuk umatmu karena sungguh mereka benar-benar telah binasa”. Kemudian orang ini bermimpi bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau berkata kepadanya: “Sampaikan salamku kepada Umar dan beritahukan bahwa hujan akan turun untuk mereka, dan katakan kepadanya “bersungguh-sungguhlah melayani umat”. Kemudian sahabat tersebut datang kepada Umar dan memberitahukan apa yang dilakukannya dan mimpi yang dialaminya. Lalu Umar menangis dan mengatakan: “Ya Allah, saya akan kerahkan semua upayaku kecuali yang aku tidak mampu”.

Hadits shahih diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (12/31-32), Ibnu Abi Khaitsamah sebagaimana dalam al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah (3/484), al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwwah (7/47), al-Khalili dalam al-Irsyad (1/313-314) dan al-Hafizh Ibnu Abdilbarr dalam al-Isti’ab (2/464). Sanad hadits ini dinilai shahih oleh al-Hafizh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah (7/101) dan al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari (2/495). Al-Hafizh Ibnu Katsir juga mengatakan dalam kitabnya yang lain, Jami’ al-Masanid di bagian Musnad Umar bin al-Khaththab (1/223) bahwa sanad hadits ini jayyid dan kuat. Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar, yang dimaksud laki-laki yang mendatangi makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melakukan tawassul dalam hadits ini adalah sahabat Bilal bin al-Harits al-Muzani radhiyallaahu ‘anhu.

Hadits ini menunjukkan dibolehkannya ber-tawassul dengan para nabi dan wali yang sudah meninggal dengan redaksi nida’ (memanggil) yaitu “Ya Rasulallah”. Ketika Bilal bin al-Harits al-Muzani mengatakan “istasqi liummatik”, maka maknanya ialah “Mohonkanlah hujan kepada Allah untuk umatmu”, bukan ciptakanlah hujan untuk umatmu.

Dalil Kelima
Setelah Khalifah Umar wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadi turunnya hujan di Madinah, setelah penduduk Madinah mengikuti saran Sayyidah Aisyah radhiyallaahu ‘anha.

عن أَبِي الْجَوْزَاءِ أَوْسِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: قَحَطَ أَهْلُ الْمَدِيْنَةِ قَحْطًا شَدِيْدًا فَشَكَوْا إِلىَ عَائِشَةَ فَقَالَتْ اُنْظُرُوْا قَبْرَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَاجْعَلُوْا مِنْهُ كُوًّا إِلىَ السَّمَاءِ حَتَّى لاَ يَكُوْنَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّمَاءِ سَقْفٌ قَالَ فَفَعَلُوْا فَمُطِرْنَا مَطَرًا حَتَّى نَبَتَ الْعُشْبُ وَسَمِنَتِ اْلإِبِلُ حَتَّى تَفَتَّقَتْ مِنَ الشَّحْمِ فَسُمِّيَ عَامَ الْفَتْقِ.

“Abu al-Jauza’ Aus bin Abdullah berkata: “Suatu ketika penduduk Madinah mengalami musim paceklik yang sangat parah. Lalu mereka mengadu kepada Aisyah. Lalu Aisyah berkata: “Kalian lihat makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, buatkan lubang dari makam itu ke langit, sehingga antara makam dan langit tidak ada atap yang menghalanginya.” Mereka melakukannya. Setelah itu, hujan pun turun dengan lebat sekali, sehingga rerumputan tumbuh dengan subur dan unta-unta menjadi sangat gemuk, sehingga tahun itu disebut dengan tahun subur.”

Hadits shahih riwayat al-Darimi dalam al-Musnad [100].

Dalam hadits di atas jelas sekali, bahwa Ummul Mu’minin Sayyidah Aisyah radhiyallaahu ‘anha menyuruh umat Islam kota Madinah pada waktu itu agar bertabaruk dengan makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu, hujan pun turun dengan lebat.

Sebagian Wahabi yaitu al-Albani dalam kitabnya tentang tawasul mendha’ifkan hadits tersebut dengan alasan bahwa Sa’id bin Zaid,  salah satu perawinya, mengandung kelemahan. Padahal dalam kitab Irwa’ al-Ghalil, al-Albani menganggap Sa’id bin Zaid sebagai perawi yang haditsnya minimal bernilai hasan. Al-Albani juga beralasan, bahwa Abu al-Nu’man, guru al-Imam al-Darimi termasuk perawi yang hafalannya berubah. Padahal para ulama menegaskan, bahwa setelah hafalan Abu al-Nu’man mengalami perubahan, hadits yang disampaikannya tidak pernah keliru. Sehingga melemahkan hadits tersebut dengan alasan Abu al-Nu’man jelas mengada-ada.

Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar menjadi sebab turunnya hujan, baik ketika baginda masih kecil menjelang remaja ketika diasuh oleh kakeknya, Abdul Muththalib, atau setelah menginjak masa remaja ketika diasuh oleh pamannya Abu Thalib, atau setelah dianggat oleh Allah menjadi nabi dan rasul, dan atau setelah baginda wafat. Karena demikian, keagungan tersebut diredaksikan dalam shalawat Nariyah dengan kalimat wa yustasqa al-ghamaam biwajhihi al-kariim, persis dengan syair Abu Thalib yang dibacakan di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallaahu wajhah di Madinah. Wallaahu a’lam.

Oleh: KH. Idrus Romli via Group WA

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s